jadwalsepakbolahariini – Dalam dunia sepak bola Inggris, setiap muncul penyerang muda berbakat, media dan fans kerap terburu-buru menyematkan label besar — “the next Rooney,” “the next Shearer,” atau dalam kasus terbaru, “the next Harry Kane.” Nama yang kini tengah menjadi sorotan dalam narasi tersebut adalah Liam Delap, striker muda yang merupakan produk akademi Manchester City dan kini mencoba meniti karier profesionalnya di klub lain.
Beberapa performa apik Delap di level junior dan masa peminjamannya membuat beberapa pengamat mulai membandingkan dirinya dengan Harry Kane, kapten timnas Inggris dan salah satu striker terbaik di dunia. Tapi apakah perbandingan ini adil? Dan lebih penting lagi: apakah waktunya sudah tepat?
Mari kita bedah secara mendalam: potensi Delap, profil kariernya sejauh ini, apa yang membuat Kane istimewa, dan kenapa membandingkan keduanya saat ini justru bisa jadi beban yang tidak perlu.
Siapa Liam Delap?
Liam Rory Delap, lahir pada 8 Februari 2003, adalah putra dari mantan pemain Premier League, Rory Delap — yang dikenal dengan lemparan jauh legendarisnya di Stoke City. Liam mewarisi darah sepak bola, namun posisinya jauh berbeda: ia penyerang murni.
Liam bergabung dengan akademi Manchester City dan mencuri perhatian saat tampil brilian di level U18 dan U23. Ia mencetak gol demi gol, tampil dominan, dan menunjukkan fisik yang matang di usia muda. Pada usia 17 tahun, ia sudah melakukan debut di tim utama Manchester City — dan langsung mencetak gol di Piala Liga melawan Bournemouth.
Namun karena persaingan sengit di lini depan City (dengan nama-nama seperti Haaland, Alvarez, Sterling kala itu), Delap dipinjamkan ke klub Championship seperti Stoke City, Preston North End, dan Hull City.
Musim 2023/24 bersama Hull menjadi titik balik: ia mencetak beberapa gol penting dan menunjukkan peningkatan dalam permainan bertahan, duel udara, dan positioning.
Kenapa Ia Mulai Dibandingkan dengan Harry Kane?
Beberapa alasan mengapa Delap mulai disebut-sebut sebagai “Harry Kane berikutnya” antara lain:
Gaya bermain: Delap memiliki fisik kuat, bisa menahan bola, dan punya naluri mencetak gol dari dalam kotak penalti. Gaya ini mirip dengan Kane di awal kariernya.
- Asal klub: Sama-sama berkembang lewat akademi klub besar (Kane dari Tottenham, Delap dari City).
- Performa di usia muda: Kedua pemain mencetak banyak gol di level junior.
- Perlahan naik lewat peminjaman: Kane juga sempat dipinjamkan ke berbagai klub sebelum menemukan tempatnya di Spurs — pola yang mirip dengan Delap.
Namun, meski kemiripan nya ada, membandingkan Delap dengan Kane secara penuh saat ini jelas prematur. Perjalanan mereka, tekanan yang dihadapi, hingga kualitas teknisnya masih jauh berbeda.
Baca Juga :
- Wolves vs Man City: Statistik, Head to Head, dan Prediksi Premier League 2026
- PSBS Biak vs Borneo FC: Prediksi Super League 2025/2026, Head to Head, dan Performa Terkini
Statistik Tak Bisa Dibohongi
Mari bandingkan statistik keduanya di usia muda (21 tahun):
- Harry Kane (usia 21)
- Sudah menjadi striker utama Tottenham Hotspur
- Musim 2014/15: 21 gol di Premier League
- Total gol di semua kompetisi musim itu: 31 gol
- Dipanggil ke timnas Inggris dan langsung mencetak gol di debut
- Liam Delap (usia 21)
- Belum bermain reguler di Premier League
- Total gol musim 2023/24 (di Championship): 8 gol dari 34 laga
- Belum masuk radar timnas senior Inggris
- Masih mencari stabilitas klub
Perbandingan ini bukan untuk meremehkan Delap, tapi untuk menunjukkan bahwa perjalanan Kane sangat luar biasa dan tidak mudah disamai. Berita Bola Bahkan pemain seperti Tammy Abraham dan Dominic Calvert-Lewin butuh waktu lama untuk menyamai level konsistensi Kane — dan mereka jauh lebih senior dibanding Delap.
Beban Ekspektasi Bisa Membunuh Potensi
Masalah utama dalam perbandingan seperti ini adalah beban psikologisnya. Pemain muda seperti Delap membutuhkan ruang untuk berkembang, untuk gagal, dan untuk belajar tanpa tekanan.
Dengan narasi media yang menyebut dirinya sebagai “penerus Kane”, publik jadi cenderung menuntut hasil instan. Jika ia gagal mencetak gol dalam beberapa laga, maka kritikan akan lebih keras. Jika bermain biasa saja di klub pinjaman, maka disebut “gagal memenuhi ekspektasi.”
Dalam sejarah sepak bola Inggris, banyak talenta muda yang “dibunuh” oleh ekspektasi terlalu dini. Contohnya:
- Freddy Adu (AS): Disebut “the next Pelé” saat usia 14 tahun. Kariernya tenggelam karena tekanan dan ekspektasi.
- Ravel Morrison: Disebut lebih berbakat dari Pogba di akademi MU. Tapi gagal berkembang karena gangguan mental dan tekanan publik.
- Bojan Krkić (Spanyol): Dicap “Messi baru”, namun mentalnya runtuh saat masih remaja.
Jika ingin melindungi Delap, publik Inggris seharusnya mendukungnya secara realistis, bukan membandingkannya dengan striker sekelas Kane saat kariernya baru saja merangkak.
Apa yang Perlu Delap Buktikan Dulu?
Agar bisa mulai dibahas dalam level yang sama dengan Kane, Delap perlu:
- Mencetak gol secara konsisten di liga papan atas, entah Premier League atau liga besar lain.
- Mendapatkan menit bermain reguler, bukan sekadar cameo dari bangku cadangan.
- Mengembangkan playmaking, karena Kane bukan hanya pencetak gol, tapi juga kreator serangan.
- Menunjukkan kematangan di laga besar.
Saat ini, Delap masih dalam tahap menemukan ritme dan identitas bermain. Perjalanan menuju level top masih panjang, dan fokus utama seharusnya bukan reputasi — tapi perkembangan.
Apa Kata Pelatih dan Pundit?
Pelatih tim muda Manchester City pernah menyebut Delap sebagai “finisher alami dengan insting predator.” Namun mereka juga menegaskan bahwa “Liam masih butuh waktu untuk memahami kapan harus menekan, bagaimana membaca ruang, dan bagaimana bermain tanpa bola.”
Pundit Sky Sports, Jamie Carragher, bahkan pernah berkomentar:
“Delap punya potensi, tapi membandingkan dia dengan Harry Kane sekarang itu seperti membandingkan motor 250cc dengan superbike. Kita bisa menghargai potensinya tanpa harus menempatkan beban nama besar di pundaknya.”
Beri Waktu, Bukan Label
Liam Delap adalah prospek cerah. Ia punya fisik yang ideal, naluri mencetak gol, dan latar belakang sepak bola yang kuat. Tapi ia belum membuktikan apa-apa di level tertinggi. Dan itu tidak masalah — karena ia masih muda.
Membandingkan Delap dengan Harry Kane saat ini adalah tindakan tergesa-gesa yang bisa merusak proses pembentukan kariernya. Kane butuh waktu, butuh kegagalan, butuh peminjaman, bahkan butuh keraguan publik sebelum ia menjadi striker nomor satu Inggris. Delap juga harus diberi ruang yang sama.
Bagi Delap, jalan masih panjang. Dan jika semua berjalan baik — siapa tahu? Mungkin suatu saat ia benar-benar akan berdiri sejajar dengan Harry Kane. Tapi hari itu bukan hari ini.