Roy Keane: Inggris Retak Usai Kalah dari Senegal

Roy Keane

jadwalsepakbolahariini – Laga uji coba yang awalnya hanya dianggap sebagai simulasi taktik menjelang Piala Dunia 2026 berubah menjadi mimpi buruk bagi Timnas Inggris. Di hadapan pendukungnya sendiri di City Ground, Nottingham, Inggris dipermalukan 0-2 oleh Senegal, tim Afrika yang tampil jauh lebih disiplin dan efisien. Best UK Breitling Replica Watches Shop 2025 – Cheap 1:1 Quality Fake Breitling Watches.Namun lebih dari sekadar kekalahan, perhatian publik langsung tertuju pada sorotan tajam Roy Keane, legenda Manchester United sekaligus analis ternama, yang menilai bahwa tim ini sudah mulai retak — dari dalam.

Kritik Roy Keane yang blak-blakan bukan hal baru. Namun kali ini, komentarnya terasa lebih menusuk karena mengandung banyak kebenaran yang sulit dibantah.Perfect Quality Swiss Rolex – Replica Watches In The World:Best Cheap 1:1 Replica Watches. Apa yang sebenarnya terjadi di dalam skuad The Three Lions? Apakah kekalahan dari Senegal hanya sebuah anomali, ataukah ini pertanda awal dari perpecahan yang lebih besar? Mari kita ulas secara lengkap.

jadwalsepakbolahariini

Kekalahan yang Memalukan: Inggris 0-2 Senegal

Timnas Inggris menurunkan sebagian besar pemain utama mereka dalam laga uji coba ini. Dengan nama-nama seperti Harry Kane, Finding Perfect Swiss Replica Watches UK Online.Jude Bellingham, Declan Rice, dan Bukayo Saka di lapangan, Inggris diharapkan bisa menunjukkan dominasinya. Sebaliknya, Senegal datang dengan kekuatan penuh, termasuk Sadio Mané dan Kalidou Koulibaly.

Namun hasil akhir menunjukkan sesuatu yang tak terduga:

  • Inggris mendominasi penguasaan bola (61%), tapi minim kreasi serangan
  • Senegal lebih efisien, dengan dua gol melalui skema serangan balik dan bola mati
  • Kesalahan koordinasi lini belakang membuat Inggris tampak rapuh
  • Atmosfer di City Ground berubah menjadi hening saat peluit akhir dibunyikan

Kekalahan ini bukan soal skor, tapi cara Inggris kalah — tak bergigi, frustrasi, dan kehilangan arah.

Roy Keane: “Ada Masalah Besar di Dalam Ruang Ganti”

Dalam siaran pasca-pertandingan, Roy Keane tak menahan diri. Ia menyatakan:

“Yang saya lihat malam ini bukan cuma tim yang kalah, tapi tim yang kehilangan identitas dan solidaritas. Ada yang tidak beres. Saya melihat pemain saling menyalahkan, tidak bicara satu sama lain, dan lebih sibuk dengan ekspresi frustrasi mereka sendiri. Ini bukan tentang taktik. Ini soal karakter.”

Komentar Keane langsung viral di media sosial dan memicu perdebatan. Tapi bagi banyak orang yang menyaksikan langsung laga tersebut, kata-kata Keane terasa sangat relevan.

Tanda-Tanda Retaknya Tim

  • Kurangnya Komunikasi di Lapangan

Sepanjang pertandingan, kamera beberapa kali menangkap momen Harry Maguire dan John Stones bersitegang, serta Jude Bellingham yang tampak frustrasi terhadap Declan Rice. Tak ada koordinasi yang solid, bahkan dalam situasi bola mati.

  • Bahasa Tubuh yang Negatif

Bukayo Saka terlihat kecewa saat digantikan, dan Harry Kane hampir tidak pernah terlihat berkomunikasi dengan rekan setimnya. Tidak ada pemimpin yang benar-benar memegang kendali emosi dan semangat tim.

  • Kehilangan Gairah dan Intensitas

Ciri khas tim Inggris dalam beberapa tahun terakhir adalah energi dan agresivitas. Tapi saat melawan Senegal, itu semua hilang. Mereka terlihat pasif dan kurang ambisi. Hal ini mengindikasikan adanya masalah internal yang mempengaruhi semangat bertanding.

Baca Juga :

Permasalahan Kepemimpinan

  • Pelatih Interim Tidak Punya Otoritas Penuh

Setelah Gareth Southgate mundur usai Euro 2024, Inggris ditangani oleh pelatih interim Steve Holland, yang selama ini menjadi asisten Southgate. Meski punya pengalaman, Holland dianggap tidak memiliki kharisma dan kontrol penuh terhadap ruang ganti.

Roy Keane menyindir hal ini secara langsung:

“Tim ini butuh pemimpin di pinggir lapangan dan di dalamnya. Kalau pelatihnya hanya jadi pengamat, ya jangan heran pemainnya bingung.”

  • Kepemimpinan di Lapangan Kabur

Harry Kane sebagai kapten dianggap kurang vokal, terutama saat tim sedang terpuruk. Pemain seperti Jordan Henderson, yang dulu jadi pemimpin moral, sudah tidak ada. Tidak ada sosok yang benar-benar mengangkat semangat tim saat situasi memburuk.

Masalah Struktural: Terlalu Banyak Bintang, Kurang Struktur

Keane juga menyentil struktur tim Inggris saat ini yang terlalu bertumpu pada nama besar, bukan performa aktual. Ia menilai banyak pemain yang dimainkan bukan karena mereka sedang dalam performa terbaik, tapi karena reputasi dan tekanan dari media.

Contohnya:

  • Harry Maguire tetap dimainkan meski tampil buruk musim ini
  • Sterling dipanggil kembali meskipun performanya di Chelsea tidak konsisten
  • Phil Foden dan Bellingham terlihat bingung dengan peran mereka yang tumpang tindih

Tanpa struktur taktik yang jelas, pemain bintang justru menjadi beban. “Terlalu banyak chef di dapur, tapi tak ada yang tahu resepnya,” kata Keane menyindir.

Senegal Tampilkan Kontras yang Menyakitkan

Tim Senegal bermain dengan semangat juang tinggi, kompak, dan disiplin. Padahal mereka tidak punya kedalaman skuad sehebat Inggris. Namun semangat kolektif dan arahan taktis dari pelatih Aliou Cissé membuat mereka tampil percaya diri dan klinis.

Senegal memberikan pelajaran penting: tim yang bersatu dan punya rencana bisa mengalahkan tim yang lebih berbakat tapi terpecah.

Apa Solusi untuk Inggris?

  • Segera Tunjuk Pelatih Permanen

Inggris butuh pemimpin baru secepatnya. Nama-nama seperti Thomas Tuchel, Graham Potter, bahkan Eddie Howe telah disebut-sebut. Yang jelas, pelatih baru harus segera datang untuk:

  1. Menentukan struktur permainan
  2. Membenahi psikologi tim
  3. Menyingkirkan ego dan membangun kembali identitas kolektif
  • Evaluasi Pemain Berdasarkan Performa, Bukan Nama

Pemain yang tampil buruk di klub seharusnya tidak dijamin tempat di tim nasional. Inggris harus kembali ke prinsip “form over fame.” Banyak pemain muda seperti Cole Palmer, Curtis Jones, atau Eze yang layak mendapat kesempatan lebih besar.

Bangun Kembali Kepemimpinan Internal

Kapten seperti Kane bisa tetap dipertahankan, tapi dia butuh dukungan dari figur pemimpin lain di lapangan. Inggris harus menemukan pemain dengan karakter kepemimpinan kuat — seperti Rice, Bellingham, atau bahkan James Ward-Prowse — untuk jadi pembimbing di tengah pertandingan.

Inggris di Persimpangan Jalan

Kekalahan dari Senegal di City Ground bukan sekadar alarm, tapi sirine keras bahwa Timnas Inggris sedang berada di jalur yang salah. Kritik Roy Keane, sekeras dan setajam apa pun, datang dari rasa cinta dan kejujuran. Ia melihat tim yang kehilangan arah, baik secara taktik maupun karakter.

Dengan waktu yang terus berjalan menuju Piala Dunia 2026, Inggris tak bisa lagi menunda pembenahan. Ini bukan soal sekadar mengganti pemain atau taktik, tapi soal membangun tim nasional yang benar-benar “nasional” — yang bersatu, punya misi bersama, dan tahu bagaimana cara menang dengan harga diri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *